‘Menikah Bervisi Surga’ versi Ustad Adi Pratama

“Tagline ‘Menikah Bervisi Surga’ memang bukanlah ungkapan yang baru, namun tetap sesuai dengan pembicaraan mengenai pernikahan,” ungkap Ustad Adi membuka pembicaraannya dalam kelas Tiga Puluh Hari Memantaskan Diri (THMD). Ia menyampaikan bahwa kesempurnaan hijrah kuncinya adalah pernikahan. 

 

Ustad Adi menceritakan pengalamannya berhijrah hingga menikah menuju jalan Allah. Ia pertama kali merasa tergetar oleh Surah Al- Qasas Ayat 77 yang artinya: Kejarlah akhiratmu namun jangan lupakan duniamu. Baginya, ayat tersebut menekankan bahwa bukan hanya sekadar seimbang dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat, akan tetapi segala sesuatu yang kita lakukan dan di manapun berada, haruslah selalu mengingat Allah. “Kerja adalah ibadah, makan untuk ibadah, bahkan tidur pun ibadah, semua yang kita kerjakan harus bertujuan ibadah,” jelas Ustad Adi.

 

Dalam perjalanan hijrahnya, Ustad Adi sempat merasa masih ada perasaan kurang meskipun semua telah dijalani. Lalu kemudian ia bertemu dengan seorang sahabatnya yang juga seorang ustad. Sahabatnya tersebut mengatakan padanya bahwa kekurangan tersebut adalah pernikahan. “Dari situ seolah tersambar petir, kagetnya luar biasa, karena saat itu saya sedang bangkrut maka harus berpikir ulang jika harus menikah,” kata Ustad Adi menceritakan perasaan bimbangnya kala itu, khawatir tidak akan ada perempuan yang berkenan menerimanya.

 

Namun kemudian ia menyadari bahwa pemikirannya tentang sulitnya menikah adalah kesalahan. Ia menyadari bahwa jodoh bukanlah sesuai spesifikasi tertentu, melainkan seperti yang disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 216. Yaitu “Boleh jadi buruk di hadapanmu tetapi baik di hadapan Allah, sebaliknya buruk di hadapan Allah tetapi seolah baik di hadapanmu,”.

 

Lalu Allah SWT kemudian menakdirkan perjumpaan Ustad Adi dengan istri. Dalam rentang waktu dua minggu ia melamar, dan dua bulan setelahnya menikah dengan bermodal lima ratus ribu rupiah. “Atas izin Allah pula lah, sampai pada sepuluh tahun umur pernikahan, dengan banyak karunia yang Allah berikan,” katanya. 

 

Dalam perjalanan pernikahan, ketika ia tidak mengerti mengenai hikmah pernikahan, dipertemukanlah ia dengan Surah Ar-Rum ayat 21. Artinya “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

 

“Berdasarkan ayat tersebut, pernikahan yang dijalankan bukan perihal pembicaraan kapan membeli rumah, mobil, dan punya anak, karena itu adalah bab bonus,” kata Ustad Adi. Menurutnya yang seharusnya dibicarakan di antara pasangan suami dan istri adalah cara agar dapat bangun malam bersama, membaca Al-Qur’an bersama, dan sering berpuasa bersama. Dalam pernikahan, sepasang suami istri harus saling mengingatkan dalam hal ibadah untuk lebih mendekat kepada Allah. Itulah yang dinamakan pernikahan yang bervisi surga.  

 

Ditulis oleh: Ahmad Wasil Mustofa

WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Pinterest

Artikel Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *