Memaknai Idul Adha untuk Meningkatkan Ketakwaan

Perayaan Idul Adha yang jatuh pada hari-hari nahr atau setiap tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah ditandai dengan pelaksanaan kurban. Berkurban tidak hanya sekadar menyembelih hewan, melainkan terdapat banyak makna di baliknya. Salah satunya adalah sebagai bentuk ketakwaan dan mendapatkan ridha Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj Ayat 37, yang berbunyi:

لَنْ يَنالَ اللَّهَ لُحُومُها وَ لا دِماؤُها وَ لكِنْ يَنالُهُ التَّقْوىمِنْكُمْ كَذلِكَ سَخَّرَها لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلىما هَداكُمْ وَ بَشِّرِ الْمُحْسِنينَ (37)

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. al-Ĥajj/ 22: 37).

Seseorang harus memiliki niat yang tulus dan siap untuk mengorbankan segalanya demi Allah. Tentu kita sudah tak asing dengan kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri, yakni Nabi Ismail sebagai awal mula adanya kurban. Dengan besarnya iman serta ketakwaan yang dimiliki, Nabi Ibrahim mampu merelakan putranya untuk dikurbankan. Begitu pula dengan Nabi Ismail, yang bersedia untuk menuruti perintah Allah SWT. Hal ini sebagaimana telah ditulis di dalam Al-Qur’an Surat As-Saffat Ayat 102 yang berbunyi;

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (Q.S. Al-Saffat / 37:102)

Sebagai manusia biasa, hampir tidak mungkin bagi kita untuk dapat mengorbankan anak yang kita cintai. Namun, berbeda dengan Nabi Ibrahim dan keluarganya yang memiliki ketakwaan yang kuat dalam menaati perintah Allah SWT. Allah SWT menggantikan pengabdian Nabi Ibrahim yang siap mengorbankan putra kesayangannya dengan pahala dan berkah yang berkali-kali lipat. 

Berkaca dari kisah tersebut, sudah seharusnya kita berusaha untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Kita dapat mencoba untuk meningkatkan ketakwaan dengan melakukan berbagai hal, misalnya sebagai berikut:

  1. Melakukan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT
  2. Bersyukur dan sadar bahwa segala pencapaian material dan spiritual yang kita raih semata-mata karena kehendak Allah SWT
  3. Terus merindukan keridhaan Allah SWT dalam segala urusan
  4. Berusaha untuk mempelajari dan merenungkan surah-surah yang telah diturunkan Allah SWT
  5. Mengingat kematian dan fananya kehidupan di dunia
  6. Memupuk rasa ikhlas dalam diri, karena yakin bahwa rencana Allah SWT adalah yang terbaik.

Menjelang Hari Raya Idul Adha ini, berkurban menjadi salah satu usaha yang dapat kita lakukan dalam meningkatkan ketakwaan. Berkurban yang merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, dapat lebih mendekatkan diri dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Ditulis oleh: Yunisa Anindita

WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Pinterest

Artikel Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *